Showing posts with label biografi. Show all posts
Showing posts with label biografi. Show all posts

Friday, March 8, 2019

Biografi Singkat: Kyai H. Zainal Arifin (1909-1963)


Kyai H. Zainal Arifin (1909-1963)
Pahlawan Pergerakan Nasional
SURAT KEPUTUSAN PRESIDEN RI
No. 35/TAHUN 1963
TANGGAL 17 NOVEMBER 1963



Kyai H. Zainal Arifin lahir di Barus, Tapanuli, Sumatera Utara pada tahun 1909. Beliau memasuki organisasi Majelis Suro Muslimin Indonesia (Masyumi) dan kemudian diangkat menjadi Kepala Bagian Umum.

Setelah mengikuti latihan militer, beliau pernah rnenjadi Panglima Hizbullah untuk seluruh Indonesia. Ketika Hizbullah digabungkan ke dalam TNI, Kyai H. Zainal Arifin diangkat sebagai Sekretaris Pucuk Pimpinan TNI.

Disamping itu, beliau menjadi anggota Badan Pekerja Komite Nasional Indonesia Pusat (BPKNIP). Pada tahun 1950-1953, Kyai H. Zainal Arifin menjadi anggota DPRS. Beliau kemudian menjadi Wakil II Perdana Menteri pada Kabinet Ali Sastroamijoyo. Pada tahun 1959, beliau diangkat menjadi Wakil Ketua DPR RI.

Ketika DPR diganti menjadi DPR-GR, Kyai H. Zainal Arifin kemudian menjadi pejabat ketua dan akhirnya menjadi Ketua DPR-GR. Beliau meninggal pada tanggal 2 Maret 1963 dan dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata, Jakarta.



Sumber:
Said, Julinar dan Wulandari, Triana. 1995. Ensiklopedi Pahlawan Nasional. Jakarta: Sub Direktorat Sejarah Direktorat Sejarah dan Nilai Tradisional Direktorat Jendral Kebudayaan.
Read More

Biografi Singkat: Marsda TNI Prof. Dr. Abdulrachman Saleh (1909-1947)


Marsda TNI Prof. Dr. Abdulrachman Saleh (1909-1947)
Pahlawan Nasional
SURAT KEPUTUSAN PRESIDEN RI
No. 071/TK/TAHUN 1974
TANGGAL 9 NOVEMBER 1974



Abdulrachman Saleh lahir di Jakarta, pada tanggal 1 Juli 1909. Sejak mahasiswa, beliau telah berorganisasi sebagai anggota Indonesia Muda, Jong Java dan Kepanduan Bangsa Indonesia (KBI).

Sebagai seorang dokter, beliau sangat berjasa di bidang kedokteran karena telah berhasil mengembangkan ilmu faal di Indonesia. Setelah Indonesia merdeka untuk menyampaikan berita proklamasi, Abdulrachman menyiapkan sebuah pemancar radio yang diberi nama "Siaran Radio Indonesia Merdeka".

Kegiatan dalam dunia penerbangan dimulai dengan memasuki Airo Club dan berhasil memperoleh brevet. Kemudian, beliau memasuki dinas Angkatan Udara RI dan diangkat menjadi Komandan Pangkalan Udara Madiun pada tahun 1946. Beliau juga pendiri sekolah Teknik Udara dan Sekolah Radio Udara di Malang.

Pada bulan Juli 1947, Abdulrachman Saleh bersama Adi Sucipto mendapat tugas mengambil obat-obatan sumbangan Palang Merah Internasional di India. Dalam perjalanan pulang ke Yogyakarta, pesawatnya ditembak Belanda ketika mau mendarat di Meguwo pada 29 Juli 1947. Abdulrachman Saleh dan Adi Sucipto gugur sebagai kusuma bangsa.



Sumber:
Said, Julinar dan Wulandari, Triana. 1995. Ensiklopedi Pahlawan Nasional. Jakarta: Sub Direktorat Sejarah Direktorat Sejarah dan Nilai Tradisional Direktorat Jendral Kebudayaan.
Read More

Sunday, February 17, 2019

Biografi Singkat: Sutan Syahrir (1909-1966)


Sutan Syahrir (1909-1966)
Pahlawan Pergerakan Nasional
SURAT KEPUTUSAN PRESIDEN RI
No. 76/TAHUN 1966
TANGGAL 9 APRIL 1966



Sutan Syahrir lahir pada tanggal 5 Maret 1909 di Padang Panjang, Surnatera Barat. Kegiatannya dalam bidang politik dimulai sejak beliau ikut mendirikan Jong Indonesia, yang kemudian berganti nama menjadi Pemuda lndonesia.

Pada tahun 1931, beliau kembali dari negeri Belanda dan menjadi Ketua Umum Partai Nasional lndonesia Merdeka. Partai ini merupakan wadah untuk mendidik kader-kader bangsa dalam berpolitik. Karena kegiatannya itu, pada tahun 1934 Syahrir masuk penjara di Cipinang, Jakarta. Kemudian bersama Drs. Mohammad Hatta dibuang ke Digul dan Banda Naira. Selanjutnya, beliau dipindahkan ke daerah Sukabumi, Jawa Barat.

Pada masa pendudukan Jepang, Syahrir memimpin gerakan rahasia melawan Jepang. Setelah Indonesia merdeka, Sutan Syahrir kemudian diangkat menjadi Perdana Menteri RI merangkap Menteri Luar Negeri dan Dalam Negeri.

Pada masa Orde Lama, Sutan Syahrir ditangkap dan dipenjarakan. Dalam masa penjara ini, beliau menderita sakit dan dikirim ke Swiss untuk berobat. Pada tanggal 9 April 1966, Sutan Syahrir meninggal di Zurich, Swiss dan dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata, Jakarta.



Sumber:
Said, Julinar dan Wulandari, Triana. 1995. Ensiklopedi Pahlawan Nasional. Jakarta: Sub Direktorat Sejarah Direktorat Sejarah dan Nilai Tradisional Direktorat Jendral Kebudayaan.
Read More

Thursday, February 7, 2019

Biografi Singkat: Sukarjo Wiryopranoto (1903-1962)


Sukarjo Wiryopranoto (1903-1962)
SURAT KEPUTUSAN PRESIDEN RI
No. 342/TAHUN 1962
TANGGAL 29 OKTOBER 1962



Sukarjo Wiryopranoto lahir pada tanggal 5 Juni 1903 di Kesugihan, Cilacap, Jawa Tengah. Semasa hidupnya, beliau aktif bergerak di bidang politik. Bersama dr. Sutomo, beliau pernah mendirikan Persatuan Bangsa Indonesia (PBI) yang kemudian menjadi Partai Indonesia Raya (Parindra).

Di tahun 1934, beliau mendirikan suatu perkampungan pemuda untuk melatih para pemuda menjadi ahli kayu, ahli besi, ahli pertanian, dan sebagainya. Kemudian, beliau diangkat menjadi Sekretaris Gabungan Politik Indonesia (GAPI).

Sukarjo juga aktif dalam bidang kewartawanan dan memimpin surat kabar “Asia Raya” (zaman Jepang) dan membina majalah Mimbar Indonesia setelah Indonesia Merdeka. Jabatan dalam pemerintahan, beliau pernah menjadi Duta Besar RI di Vietnam, Duta Besar Luar Biasa untuk Italia, dan Duta Besar Luar Biasa dan Berkuasa Penuh untuk RRC.

Pada tahun 1962, beliau diangkat sebagai Wakil Tetap Indonesia di PBB. Sukarjo Wiyopranoto meninggal dunia di New York pada tanggal 23 Oktober 1962. Beliau dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata, Jakarta.



Sumber:

Said, Julinar dan Wulandari, Triana. 1995. Ensiklopedi Pahlawan Nasional. Jakarta: Sub Direktorat Sejarah Direktorat Sejarah dan Nilai Tradisional Direktorat Jendral Kebudayaan.
Read More

Wednesday, February 6, 2019

Biografi Singkat: Wage Rudolf Supratman (1903-1938)


Wage Rudolf Supratman (1903-1938)
SURAT KEPUTUSAN PRESIDEN RI
NO. 016/TK/TAHUN 1971
TANGGAL 20 MEI 1971



Wage Rodolf Supratman lahir pada tanggal 19 Maret 1903 di Dusun Trembelang, kelurahan Somongari, kecamatan Kaligesing, kabupaten Purworejo. Beliau adalah anak ke tujuh dari Keluarga Jumeno Senen Sastrosuharjo.

Karena kelahirannya pada pasaran wage, maka beliau diberi nama Wage. Dua bulan kemudian, Wage dibawa kembali ke Tangsi Meester Cornelis Jatinegara, Jakarta. Untuk memenuhi peraturan administrasi agar memperoleh tunjangan warga KNIL, maka dibuatlah keterangan kelahiran dengan nama Wage Supratman.

Di Ujung Pandang nantinya, beliau melanjutkan sekolah ke ELS dan diangkat anak oleh kakak iparnya, Sersan Van Eldik. Setelah itu, beliau diberi nama tambahan Rudolf. Setelah menamatkan pendidikan di ELS, beliau langsung melanjutkannya ke Normal School hingga lulus.

Pada tahun 1924, beliau pergi ke Bandung dan menjadi seorang wartawan di koran Kaum Muda. Saat itu, beliau turut ikut dalam perjuangkan cita-cita kebangsaan dengan jalur komunikasi massa dan permainan biolanya.

Beliau merupakan pencipta lagu "Indonesia Raya", yang kemudian diperkenalkan secara luas untuk pertama kalinya, di depan Kongres Pemuda yang berlangsung di Jakarta 28 Oktober 1928. Dengan biola di tangan, Wage Rudolf Supratman memperdengarkan hasil karyanya itu. Untuk selanjutnya, lagu Indonesia Raya selalu dinyanyikan dalam setiap rapat partai-partai politik.

Setelah Indonesia merdeka, lagu "Indonesia Raya" ditetapkan sebagai lagu Kebangsaan, perlambang persatuan bangsa. Beliau meninggal pada 17 Agustus 1938 dan dimakamkan di Surabaya.



Sumber:

Said, Julinar dan Wulandari, Triana. 1995. Ensiklopedi Pahlawan Nasional. Jakarta: Sub Direktorat Sejarah Direktorat Sejarah dan Nilai Tradisional Direktorat Jendral Kebudayaan.
Read More

Sunday, January 27, 2019

Biografi Singkat: Prof. Dr. R. Supomo, SH. (1903-1958)


Prof. Dr. R. Supomo, SH. (1903-1958)
SURAT KEPUTUSAN PRESIDEN RI
NO. 123/TAHUN 1965
TANGGAL 14 MEI 1965



Supomo lahir pada tanggal 22 Januari 1903 di Sukoharjo, Surakarta. Pendidikan pertama beliau dimulai dari ELS (SD), kemudian ke MULO (SMP). Pada tahun 1923, beliau berhasil menamatkan pendidikannya di sekolah hukum. Kemudian, beliau melanjutkan studinya ke Universitas Leiden, Negeri Belanda.

Sepulangnya dari Belanda, beliau ditugaskan di Pengadilan Negeri Yogyakarta. Beliau pernah menjadi anggota Jong Java. Dan, pada tahun 1928, beliau menulis sebuah brosur dengan judul "Perempuan Indonesia dalam Hukum", ketika Kongres Perempuan Indonesia Pertama.

Pada tahun 1933, beliau mengadakan sebuah penelitian tentang hukum adat di Jawa Barat, dan berhasil menerbitkan monografi mengenai hukum adat Jawa Barat. Tidak hanya itu saja, beliau juga diangkat sebagai Ketua Balai Pengetahuan Masyarakat Indonesia dan juga pernah menjabat sebagai Ketua Landraad Purworejo. Beliau juga terdaftar sebagai pegawai tinggi pada Departemen Van Justisi dan guru besar pada Sekolah Hukum Tinggi di Jakarta.

Di masa kemerdekaan, beliau diangkat sebagai Menteri Kehakiman RI. Beliau ikut pula membina Universitas Gajah Mada dan diangkat sebagai rektor pada tahun 1951, di Universitas Indonesia. Disamping itu, beliau pernah menjadi Duta Besar RI untuk Kerajaan Inggris di London. Supomo meninggal dunia pada tanggal 12 September 1958 di Jakarta, kemudian dimakamkan di Solo.



Sumber:

Said, Julinar dan Wulandari, Triana. 1995. Ensiklopedi Pahlawan Nasional. Jakarta: Sub Direktorat Sejarah Direktorat Sejarah dan Nilai Tradisional Direktorat Jendral Kebudayaan.
Read More

Tuesday, January 22, 2019

Biografi Singkat: Prof. Mr Muhammad Yamin (1903-1962)


Prof. Mr Muhammad Yamin (1903-1962)
SURAT KEPUTUSAN PRESIDEN RI
NO. 088/TK/TAHUN 1973
TANGGAL 6 NOVEMBER 1973



Muhammad Yamin lahir pada 28 Agustus 1903 di Talawi, Sawahlunto, Sumatera Barat. Kegiatan berorganisasi dimulainya ketika ia menjadi anggota Jong Sumatranen Bond (JSB), organisasi kedaerahan yang bergerak dalam perjuangan kepemudaan dan kebangsaan. Dalam organisasi tersebut, beliau duduk sebagai anggota pengurus.

Gagasan tentang persatuan Indonesia telah dikemukakannya pada tahun 1923, ketika ia menyampaikan pidato dalam bahasa Belanda di dalam Lustrum I Jong, Sumatranen Bond (JSB) di Jakarta, yang berjudul "Bahasa Melayu Pada Masa lampau, Masa Sekarang, dan Masa Depan" (dalam bahasa Indonesia). Ide persatuan ini dicetuskannya dalam Kongres Pemuda I (1926) dan diperkukuhnya dalam Sumpah Pemuda 1928.

Dalam Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia, beliau turut berperan aktif dan juga duduk dalam Panitia Kecil. Gagasannya tentang dasar falsafah negara, yang akhirnya disebut dengan nama Pancasila ikut mewarnai sidang-sidang dalam panitia tersebut. Setelah Indonesia merdeka, beliau diangkat menjadi anggota KNIP, Ketua BAPENAS, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, serta Wakil Pertama Bidang Khusus serta Menteri Penerangan.

Prof. Muhammad Yamin, SH. meninggal pada 17 Oktober 1962 di Jakarta dan dimakamkan di Talawi, Sawahlunto, Sumatera Barat.



Sumber:

Said, Julinar dan Wulandari, Triana. 1995. Ensiklopedi Pahlawan Nasional. Jakarta: Sub Direktorat Sejarah Direktorat Sejarah dan Nilai Tradisional Direktorat Jendral Kebudayaan.
Read More

Monday, January 14, 2019

Biografi Singkat: Raden Ajeng Kartini (1879-1904)


Raden Ajeng Kartini (1879-1904)
SK PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA
NO. 108/TK/TAHUN 1964
TANGGAL 2 MEI 1964



Raden Ajeng Kartini lahir pada 21 April 1879 di Jepara, Jawa Tengah. Ayahnya adalah Bupati Jepara. Kartini bersekolah hanya sampai sekolah dasar. Tetapi, beliau memendam cita-cita untuk tetap sekolah sampai tinggi. Padahal tradisi pingitan untuk gadis berlaku saat itu.

Untunglah, beliau gemar membaca majalah dan buku, sehingga pikirannya terbuka apalagi setelah tahu kondisi wanita di Eropa. Beliau kemudian membandingkannya dengan kondisi wanita Indonesia. Sejak itu timbul niat dalam dirinya, untuk mendirikan sekolah bagi gadis-gadis di Jepara. Beliau juga rajin menulis surat untuk teman-temannya di negeri Belanda, dan akhirnya mendapat beasiswa dari pemerintah Belanda.

Namun pada saat itu, ayahnya memutuskan Kartini harus menikah dengan Raden Adipati Joyodiningrat, Bupati Rembang. Suaminya memahami cita-cita Kartini dengan mendirikan sekolah anak perempuan di Rembang. Setelah itu, mulailah bermunculan sekolah-sekolah serupa dengan nama “Sekolah Kartini” di Semarang, Surabaya, Yogyakarta, Malang, Madiun, Cirebon, dan lain-lain.

Kartini meninggal dalam usia muda, yaitu 25 tahun. Beliau tak sempat mengenyam jerih payahnya. Pada tanggal 17 September 1904 Kartini meninggal ketika melahirkan putera pertamanya. Kumpulan surat-surat Kartini kemudian diterbitkan menjadi buku dengan judul “Door Duisternis tot Lieht" (Habis Gelap Terbitlah Terang).



Sumber:

Said, Julinar dan Wulandari, Triana. 1995. Ensiklopedi Pahlawan Nasional. Jakarta: Sub Direktorat Sejarah Direktorat Sejarah dan Nilai Tradisional Direktorat Jendral Kebudayaan.
Read More

Wednesday, December 19, 2018

Biografi Singkat: Teuku Nyak Arief


Teuku Nyak Arief (1899-1946)
SURAT KEPUTUSAN PRESIDEN RI
NO. 071/TK/TAHUN 1974
TANGGAL 9 NOVEMBER 1974



Teuku Nyak Arief atau yang lebih dikenal dengan sebutan "Rencong Aceh", dilahirkan pada 17 Juli 1899 di Ulee Lheue, Banda
Aceh. Beliau adalah putera sulung Teuku Nyak Banta. Beliau merupakan Panglima Sagi 26 Mukim (Aceh Besar).

Setelah tamat Sekolah Dasar, beliau melanjutkan di Sekolah Raja (Kweekschool) di Bukittinggi. Kemudian, beliau melanjutkan pendidikannya di Sekolah Pamongpraja (OSVIA), di Serang. Antara tahun 1927-1931, Nyak Arief menjadi anggota Volksraad, disamping jabatannya sebagai Panglima Sagi.

Pada tahun 1942, beliau berhasil menghindar dari penangkapan oleh Kolonel Gosenson. Dengan bantuan para ulama dan hulubalang, terjadilah pertempuran melawan Belanda hingga Jepang mendarat di Indonesia.

Pada masa kependudukan Jepang, beliau diangkat menjadi Ketua Dewan Rakyat Daerah Aceh (Aceh Sanji Kai), sebagai Wakil Ketua Dewan Rakyat Sumatera. Nyak Arief adalah Residen Republik Indonesia pertama untuk
daerah Aceh. Sebagai Staf Umum Komandemen Sumatera, beliau mendapatkan pangkat sebagai Mayor Jenderal Tituler bersama dengan dr. Adnan Kapau Gani.

Beliau meninggal pada 4 Mei 1946 di Takengon (Aceh Tengah).



Sumber:

Said, Julinar dan Wulandari, Triana. 1995. Ensiklopedi Pahlawan Nasional. Jakarta: Sub Direktorat Sejarah Direktorat Sejarah dan Nilai Tradisional Direktorat Jendral Kebudayaan.
Read More

Sunday, December 2, 2018

Biografi Singkat: Dr. F. Lumban Tobing


Dr. F. Lumban Tobing (1899-1962)
SURAT KEPUTUSAN PRESIDEN RI
NO. 361/TAHUN 1962
TANGGAL 17 NOVEMBER 1962



Ferdinand Lumban Tobing dilahirkan di Sibulan, Sibolga pada 19 Februari 1899. Beliau menamatkan SD di Depok, Bogor dan melanjutkan ke STOVIA di Jakarta. Setelah
tamat pada tahun 1842, beliau bekerja sebagai dokter di CBZ (sekarang Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo), kemudian pindah ke Surabaya sampai tahun 1935.

Pada tahun 1943, Tobing diangkat sebagai ketua Syu Sangi Kai (Dewan Perwakilan Daerah) Tapanuli sekaligus anggota BPUPKI. Setelah Proklamasi Kemerdekaan pada tahun
1945, beliau diangkat sebagai residen daerah Tapanuli. Kemudian, beliau diangkat sebagai gubemur militer untuk daerah Tapanuli dan Sumatera Timur Selatan. Pada waktu itu, beliau melancarkan perang gerilya dan memimpin perjuangan di hutan-hutan dan gunung-gunung.

Jabatan yang pemah diraihnya yaitu Menteri Penerangan dalam Kabinet Ali Sastraamijoyo I, Menteri Urusan Hubungan Antar Daerah dan terakhir Menteri Negara Urusan Transmigrasi.
Dr. F. Lumban Tobing meninggal dunia di Jakarta, pada 7 Oktober 1962. Jenazahnya dimakamkan di Kolang Sibolga.



Sumber:

Said, Julinar dan Wulandari, Triana. 1995. Ensiklopedi Pahlawan Nasional. Jakarta: Sub Direktorat Sejarah Direktorat Sejarah dan Nilai Tradisional Direktorat Jendral Kebudayaan.
Read More

Wednesday, November 28, 2018

Biografi Singkat: Dr. Kusumah Atmaja, SH


Dr. Kusumah Atmaja, SH (1898-1952)
SURAT KEPUTUSAN PRESIDEN RI
NO. 124/TAHUN 1965
TANGGAL 14 MEI 1965



Sulaiman Effendi Kusumah Atmaja lahir di Purwokerto, Jawa Tengah pada tanggal 8 September 1898. Beliau dibesarkan di
Bogor dan bersekolah di ELS (Sekolah Rendah Belanda), kemudian melanjutkan ke Rechts School (Sekolah Hukum) di Jakarta. Setelah tamat, beliau bertugas sebagai ahli hukum di Pengadilan Negeri Bogor, kemudian pindah ke
Medan.

Beliau sangat tertarik kepada hukum adat. Pada tahun 1919, beliau belajar ke Leiden (Belanda) untuk mendalami ilmu hukum selama tiga tahun sehingga meraih gelar doktor.

Saat di Padang, beliau ikut serta dalam pergerakan nasional sebagai anggota PERMI (Partai Muslim Indonesia). Pada masa pendudukan Jepang, beliau menjabat sebagai
kepala kehakiman di Jawa Tengah, sekaligus merangkap sebagai kepala pengadilan di Semarang.

Setelah Indonesia merdeka, beliau menyumbangkan tenaga pada Sekolah Tinggi Kepolisian dan Universitas Gadjah Mada sebagai Guru Besar. Dalam perundingan KMB, beliau diangkat sebagai penasehat delegasi Indonesia. Masa Republik Indonesia Serikat (RIS) sampai dengan terbentuknya kembali Negara Kesatuan, beliau menjabat sebagai Ketua Mahkamah Agung.

Beliau meninggal dunia pada 11 Agustus 1952 di Jakarta dan dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata, Jakarta.



Sumber:

Said, Julinar dan Wulandari, Triana. 1995. Ensiklopedi Pahlawan Nasional. Jakarta: Sub Direktorat Sejarah Direktorat Sejarah dan Nilai Tradisional Direktorat Jendral Kebudayaan.
Read More

Sunday, November 25, 2018

Biografi Singkat: R. Oto Iskandar Di Nata


R. Oto Iskandar Di Nata (1897-1945)
SK PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA
NO. 088/TK/TAHUN 1973
TANGGAL 6 NOVEMBER 1973



R. Oto Iskandar Di Nata lahir pada tanggal 31 Maret 1897 di Bandung. Setelah menamatkan HIS di Bandung, beliau melanjutkan pendidikan di HKS (Sekolah Guru Atas) di Purworejo, Jawa Tengah. Pada tahun 1928, beliau memprakarsai berdirinya "Sekolah Kartini".

Pada masa penjajahan Belanda, beliau menjadi salah satu anggota Volksraad ( dewan rakyat). Pada tahun 1935, beliau ditarik dari Volksraad karena memprotes pemerintah Belanda. Tahun 1939, beliau ikut bergabung dalam Gabungan Politik Indonesia (GAPI).

Pada masa pendudukan Jepang, setelah banyak partai-partai dibubarkan. Beliau giat dalam surat kabar "Warta Harian Cahaya". Beliau kemudian menjadi salah satu anggota dari Jawa Hokokai (Badan Kebaktian Rakyat Jawa), kemudian anggota Cuo Sangi In (Dewan Perwakilan Rakyat).

Menjelang Proklamasi Kemerdekaan Indonesia, beliau menjadi salah satu anggota Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI) dan turut menyusun UUD 1945. Kemudian, beliau menjadi Menteri Negara dalam Kabinet RI.

Sayang, beliau kemudian terbunuh dalam penculikan yang terjadi di bulan Oktober 1945. Beliau meninggal dunia di Mauk (Banten) pada 20 Desember 1945.



Sumber:

Said, Julinar dan Wulandari, Triana. 1995. Ensiklopedi Pahlawan Nasional. Jakarta: Sub Direktorat Sejarah Direktorat Sejarah dan Nilai Tradisional Direktorat Jendral Kebudayaan.
Read More

Tuesday, October 9, 2018

Biografi Singkat: M.G.R. Albertus Sugiyopranoto S.J.


M.G.R. Albertus Sugiyopranoto S.J. (1896-1963 )
SK PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA
NO. 152/TAHUN 1963
TANGGAL 26 JULI 1963



Sugiyopranoto lahir di Solo, pada tanggal 25 November 1896. Semula, beliau belajar di HIS (SD Hindia Belanda). Setamat dari HIS, beliau kemudian melanjutkan ke sekolah guru dan tamat pada tahun 1915. Setamat dari sekolah guru ini, beliau kemudian bertugas sebagai guru selama setahun.

Pada tahun 1919, beliau dikirim ke Negeri Belanda untuk memperdalam pengetahuan dalam bidang agama Kristen, bahasa Latin, bahasa Yunani dan filsafat. Setelah itu, beliau kembali ke tanah air dengan nama Frater Sugiyo dan bertugas di Muntilan sebagai guru Ilmu Pasti, bahasa Jawa dan agama. Beliau juga memimpin majalah mingguan bernama "Swara Tama".

Pada tahun 1928, beliau kembali ke Negeri Belanda untuk memperdalam Ilmu Teologi. Kemudian pada tahun 1931, beliau ditasbihkan sebagai imam. Setelah kembali ke Indonesia, beliau langsung menjadi Pastor di Bintaran Yogyakarta. Namanya diganti Sugiyopranoto. Pada tahun 1940, beliau diangkat menjadi Vikaris Apostolik untuk memangku jabatan Uskup Agung.

Pada Masa Agresi Militer II (1948-1949), beliau menetap di Yogyakarta. Pada tanggal 22 Juli 1963, beliau meninggal dunia di Negeri Belanda dan kemudian dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Giritunggal, Semarang.



Sumber:

Said, Julinar dan Wulandari, Triana. 1995. Ensiklopedi Pahlawan Nasional. Jakarta: Sub Direktorat Sejarah Direktorat Sejarah dan Nilai Tradisional Direktorat Jendral Kebudayaan.
Read More

Biografi Singkat: Abdul Muis


Abdul Muis (1883-1959)
SK PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA
NO. 218/TAHUN 1959
TANGGAL 30 AGUSTUS 1959



Abdul Muis lahir pada tanggal 3 Juli 1883 di Sungai Puar, dekat Bukittinggi, Sumatera Barat. Beliau pemah belajar di STOVIA tapi tidak sampai tamat. Kemudian, Abdul Muis terjun ke dalam bidang kewartawanan. Karangan-karangannya di "De Express" banyak berisi kecaman terhadap tulisan-tulisan orang Belanda yang menghina bangsa Indonesia.

Abdul Muis kemudian masuk Sarekat Islam dan diangkat sebagai anggota pengurus besar. Beliau sempat diadili pemerintah Belanda karena tidak menyetujui adanya perayaan yang diadakan Pemerintah Belanda dalam rangka 100 tahun bebasnya negeri tersebut dari penjajahan Perancis.

Pada tahun 1917 sepulang dari Belanda, beliau berhasil mempengaruhi tokoh-tokoh Belanda untuk mendirikan "Technische Hogeschool" di Indonesia, yang sekarang bernama Institut Teknologi Bandung (ITB).
Pada tahun 1922, Abdul Muis memimpin pemogokan kaum buruh di daerah Yogyakarta. Sayangnya pada tahun 1927, beliau ditangkap dan diasingkan ke Garut, Jawa Barat.

Setelah Proklamasi Kemerdekaan Indonesia, Abdul Muis membentuk Persatuan Perjuangan Priangan guna membantu mempertahankan kemerdekaan. Beliau meninggal dunia di Bandung pada tanggal 17 Juni 1959 dan dimakamkan di Bandung.



Sumber:

Said, Julinar dan Wulandari, Triana. 1995. Ensiklopedi Pahlawan Nasional. Jakarta: Sub Direktorat Sejarah Direktorat Sejarah dan Nilai Tradisional Direktorat Jendral Kebudayaan.
Read More

Tuesday, October 2, 2018

Biografi Singkat: Radin Inten II


Radin Inten II (1834-1856)
Pahlawan Nasional
Surat Keputusan Presiden RI
No. 082/TK/Tahun 1986
Tanggal 23 Oktober 1986



Pada tahun 1850 dalam usia 16 tahun, Radin Inten II dinobatkan sebagai Ratu di Lampung. Ketika itu, Belanda membujuknya untuk disekolahkan tapi ditolak oleh Radin Inten II. Penolakan ini membuat jengkel pihak Belanda.

Sejak usia muda, Radin Inten II memang tidak menyenangi kehadiran kolonialis Belanda di Lampung. Dengan gigih, beliau memimpin dan mengorganisasi perlawanan terhadap Belanda. Pada tahun 1851, Belanda menyerang secara besar-besaran dibawah pimpinan Kapten Yuch dan merebut benteng pasukan Radin Inten II di Merambung.

Namun, berkali-kali Belanda mengirimkan pasukan untuk mematahkan perlawanan Radin Inten II tapi semuanya selalu bisa digagalkan. Belanda pun menjadi khawatir kalau perlawanan rakyat Lampung itu dapat berpengaruh dan meluas ke daerah Banten dan daerah lainnya. Akhirnya, Belanda menjalankan siasat liciknya dengan memperalat seorang bawahan Radin Inten II yang bernama Radin Ngerapat.

Dengan bantuan Radin Ngerapat itu, Belanda menyerbu pasukan Raden Inten II sehingga pertempuran pun tak terelakkan lagi. Dalam pertempuran ini, Radin Inten II gugur sebagai kusuma bangsa dalam usia 22 tahun, pada tanggal 5 Oktober 1856.



Sumber:

Said, Julinar dan Wulandari, Triana. 1995. Ensiklopedi Pahlawan Nasional. Jakarta: Sub Direktorat Sejarah Direktorat Sejarah dan Nilai Tradisional Direktorat Jendral Kebudayaan.
Read More

Biografi Singkat: Sultan Mahmud Badaruddin II


Sultan Mahmud Badaruddin II (1768-1852)
Pahlawan Kemerdekaan Nasional
Surat Keputusan Presiden RI
No. 063/TK/Tahun 1984
Tanggal 29 Oktober 1984



Raden Hasan atau yang dikenal dengan nama Sultan Mahmud Badaruddin II, lahir pada tahun 1768.

Belanda yang ingin mengambil kembali kekuasaan di Palembang, ternyata mendapatkan perlawanan dan gempuran-gempuran dari pasukan Sultan Mahmud Badaruddin II. Setelah merasa kewalahan, Belanda mendatangkan bantuan 2 buah kapal perang yaitu Eendracht dan Ayax. Setelah itu, terjadi pertempuran selama 3 hari 3 malam yang mengakibatkan kekalahan Belanda.

Setelah pertempuran 3 hari 3 malam, Belanda kemudian mendatangkan bantuan lagi dibawah pimpinan Jenderal Schubert dan Laksamana Wolterbeek. Namun, bantuan itu pun hanya mendapatkan kekalahan. Selanjutnya Belanda mengirimkan ekspedisi yang lebih kuat lagi, dibawah pimpinan Jenderal Baron de Kock. Namun, perlawanan Sultan Badaruddin II dengan pasukannya tidak dapat dikalahkan Belanda.

Setelah mengalami kekalahan dalam berbagai pertempuran, Belanda kemudian melakukan tipu muslihat. Ketika itu, awalnya Sultan Badaruddin II diundang Belanda untuk berunding tapi ternyata beliau kemudian ditangkap dan dibuang ke Batavia serta selanjutnya diasingkan ke Ternate.

Setelah tiga puluh satu tahun diasingkan, Sultan Badaruddin II meninggal pada tanggal 22 November 1852.



Sumber:

Said, Julinar dan Wulandari, Triana. 1995. Ensiklopedi Pahlawan Nasional. Jakarta: Sub Direktorat Sejarah Direktorat Sejarah dan Nilai Tradisional Direktorat Jendral Kebudayaan.
Read More

Monday, October 1, 2018

Biografi Singkat: Sultan Iskandar Muda


Sultan Iskandar Muda (1591-1636)
Surat Keputusan Presiden RI
No. 077/TK/Tahun 1993
Tanggal 14 September 1993



Sultan Iskandar Muda lahir pada tanggal 21 Januari 1591. Beliau menduduki tahta Kerajaan Aceh pada usia yang sangat muda. Akan tetapi pada zaman pemerintahannya,
Aceh mengalami puncak kebesaran.

Sultan lskandar Muda membangun kerajaannya dalam segala bidang. Dalarn bidang pertahanan, beliau membangun angkatan perang dengan berbagai usaha dan cara. Beliau mempersiapkan pasukan-pasukan kerajaan dengan melatih para pemuda di sana. Mereka mendapat latihan dan ketrampilan militer dari pelatih-pelatih yang datang dari luar negeri maupun dalam negeri. Sehingga tidak mengherankan apabila armada laut Aceh saat itu sangat kuat.

Dibidang ekonomi, Aceh saat itu menjadi pusat perdagangan yang sangat ramai. Sultan juga berhasil membuat ketetapan-ketetapan yang berlaku di Kerajaan Aceh yang kemudian disebut Adat Makuta Alam.

Pada rentang tahun 1615-1629, Sultan Iskandar Muda melakukan serangan besar-besaran terhadap bangsa Portugis yang berkedudukan di Malaka. Namun, serangan ini menemui kegagalan dan Sultan Iskandar Muda meninggal pada tahun 1636 secara tiba-tiba.



Sumber:

Said, Julinar dan Wulandari, Triana. 1995. Ensiklopedi Pahlawan Nasional. Jakarta: Sub Direktorat Sejarah Direktorat Sejarah dan Nilai Tradisional Direktorat Jendral Kebudayaan.
Read More

Biografi Singkat: Cut Meutia


Cut Meutia (1870-1910)
SK PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA
NO. 107/TAHUN 1964
TANGGAL 2 MEI 1964



Cut Nyak Meutia lahir di Perlak, Aceh pada tahun 1870. Beliau adalah seorang panglima Aceh ketika perang melawan Belanda.

Bersama suaminya Teuku Cik Tunong, beliau membentuk dan menyerang patroli-patroli yang dilakukan Belanda di daerah pedalaman Aceh. Penyerangan yang berkelanjutan ini membuat Belanda mengambil keputusan untuk membujuk Cut Meutia agar menyerah. Namun, beliau menolak bujukan Belanda tersebut.

Pada bulan Mei tahun 1905, Teuku Cik Tunong ditangkap Belanda dan kemudian dihukum mati. Sebelum Teuku Cik Tunong ditangkap, beliau sempat berpesan kepada Cut Meutia agar menikah lagi dengan Pang Nangru. Pang Nangru adalah kawan akrab Cik Tunong.

Setelah menjalankan pesan suaminya itu, Cut Meutia kembali melanjutkan perjuangan. Pada tanggal 26 September 1910 terjadilah pertempuran di Paya Ciciem, yang menewaskan Pang Nangru. Dalam pertempuran ini, Cut Meutia dapat meloloskan diri. Cut Meutia diberikan amanah untuk memimpin pasukan yang berkekuatan hanya 45 orang dengan 13 pucuk senjata.

Dengan seorang anaknya yang bernama Raja Sabil yang berumur sebelas tahun, Cut Meutia kembali melanjutkan perjuangan. Cut Meutia terus berjuang hingga suatu hari ia terkepung. Beliau meninggal dunia pada tahun 1910.



Sumber:

Said, Julinar dan Wulandari, Triana. 1995. Ensiklopedi Pahlawan Nasional. Jakarta: Sub Direktorat Sejarah Direktorat Sejarah dan Nilai Tradisional Direktorat Jendral Kebudayaan.
Read More

Saturday, September 29, 2018

Biografi Singkat: Teuku Umar


Teuku Umar (1854-1899)
SK PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA
NO. 087/TKJTAHUN 1973
TANGGAL 6 NOVEMBER 1973



Teuku Umar lahir pada tahun 1854 di Meulaboh. Teuku Umar adalah keturunan Minangkabau yang merantau ke Aceh pada akhir abad ke-17. Beliau kemudian menikah dengan Cut Nyak Dien.

Pada saat itu perang Aceh tengah berlangsung, beliau mulanya hanya berjuang untuk menyelamatkan kampungnya. Hingga kemudian perjuangannya meluas sampai ke daerah Meulaboh.

Kampung Darat merupakan daerah yang dijadikan sebagai markas besar Teuku Umar. Namun, markas ini kemudian dapat diduduki oleh Belanda pada tahun 1878. Kemudian pada tahun 1883, Teuku Umar berdamai dengan Belanda. Hal ini sebenarnya hanya siasat Teuku Umar belaka, karena kemudian Teuku Umar membunuh 32 orang tentara Belanda dan berhasil merampas senjatanya.

Pada tanggal 29 Maret 1896, Teuku Umar berhasil membawa 800 pucuk senjata, 25.000 butir peluru, uang 18.000 dollar dan peralatan lainnya. Atas kejadian ini, Belanda menjadi sangat marah dan kemudian menggerakkan pasukannya dibawah pimpinan panglima Van Heutz. Pertempuran pun meletus pada tanggal 10 Februari 1899 malam. Dalam pertempuran ini, Teuku Umar terkena tembakan dan gugur sebagai kusuma bangsa.



Sumber:

Said, Julinar dan Wulandari, Triana. 1995. Ensiklopedi Pahlawan Nasional. Jakarta: Sub Direktorat Sejarah Direktorat Sejarah dan Nilai Tradisional Direktorat Jendral Kebudayaan.
Read More

Biografi Singkat: Cut Nyak Dien


Cut Nyak Dien (1848-1908)
SK PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA
NO. 106/TAHUN 1964
TANGGAL 2 MEI 1964



Cut Nyak Dien lahir di Lampadang, Aceh Besar pada tahun 1848. Ayahnya bernama Teuku Nanta Setia Ulebalang VI Mukim, seorang Aceh yang memiliki garis keturunan Minangkabau.

Saat dewasa, Cut Nyak Dien menikah dengan Teuku Ibrahim Lamnga, seorang pejuang Aceh. Pada tahun 1873, meletuslah perang Aceh. Pada tahun 1875, Belanda berhasil menduduki daerah VI Mukim. Dalam pertempuran melawan Belanda tersebut, suami Cut Nyak Dien meninggal dunia pada tahun 1878. Sejak itu, Cut Nyak Dien meneruskan perjuangan dan bersumpah untuk membalas kematian suaminya.

Pada tahun 1880, beliau menikah untuk yang kedua kalinya dengan kemenakan ayahnya, yaitu Teuku Umar. Teuku Umar juga merupakan seorang pejuang Aceh. Berkat kegigihan Teuku Umar inilah, daerah VI Mukim dapat direbut kembali dari tangan Belanda tahun pada tahun 1884.

Dalam pertempuran pada tanggal 11 Februari 1899, Teuku Umar gugur. Sejak itu, Cut Nyak Dien terus bergerilya dalam usia yang sudah mencapai 50 tahun.

Setelah enam tahun lamanya Cut Nyak Dien dan pasukannya bergerilya, mereka tertangkap Belanda. Kemudian beliau dibuang ke Sumedang, Jawa Barat dan meninggal pada tanggal 6 November 1908.



Sumber:

Said, Julinar dan Wulandari, Triana. 1995. Ensiklopedi Pahlawan Nasional. Jakarta: Sub Direktorat Sejarah Direktorat Sejarah dan Nilai Tradisional Direktorat Jendral Kebudayaan.
Read More