Showing posts with label hikmah sejarah. Show all posts
Showing posts with label hikmah sejarah. Show all posts

Sunday, January 27, 2019

Hikmah Sejarah: Kemeja Bertambal Mohammad Natsir

Mohammad Natsir tengah duduk.

Pancarona Sejarah - Mohammad Natsir lahir pada tanggal 17 Juli 1908, di Alahan Panjang, Solok, Sumatera Barat. Tokoh bangsa yang satu ini begitu lekat dengan perdagangan dan agama. Sepanjang hidupnya, berkali-kali beliau tinggal bersama para saudagar dan tek hentinya menuntut ilmu agama Islam. Saat masih menimba ilmu di Hollandsch Indische School (HIS), beliau juga tetap belajar di madrasah diniyah. Selepas dari HIS, Natsir melanjutkan studinya ke Meer Uitgebreid Lager Onderwijs (MULO), lalu ke Algemeene Middelbare School (AMS) di Bandung.

Kegemaran berorganisasinya dimulai sejak di MULO. Pada saat itu, beliau telah bergabung dengan dua organisasi, yakni Pandu Nationale Islamietische Pavinderij dan Jong Islamieten Bond. Sejak saat itu, kiprahnya berorganisasi terus mengemuka di pelbagai organisasi lain. Sebagaimana yang diketahui, beliau pernah menjabat sebagai Wakil Ketua Komite Nasional Indonesia Pusat (KNIP), Presiden Liga Muslim Sedunia (World Moslem Congress), dan Ketua Dewan Masjid Sedunia.

Mohammad Natsir pernah menyita perhatian publik kala itu, saat menyampaikan mosi integral pada tahun 1950. Beliau lantas diangkat menjadi Perdana Menteri, walaupun hanya sebentar bertugas, sebab adanya penolakan dan perlawanan dari Partai Nasional Indonesia (PNI) menyusul kritik terhadap Soekarno atas ketimpangan kesejahteraan antara Jawa dan luar Jawa.

Ketidakpuasan membuat Natsir memutuskan untuk bergabung dengan gerakan Pemerintah Revolusioner Republik Indonesia (PRRI). Keputusannya itu membuat dirinya ditangkap dan dipenjara di tahun 1962. Sikap kritis Natsir tidaklah berhenti di Orde Lama saja, beliau pun kritis terhadap banyak hal yang terjadi di era Orde Baru. Sebagaimana yang diketahui, Natsir termasuk salah satu penanda tangan Petisi 50 pada 5 Mei 1980. Meskipun begitu, sosok bangsa yang satu ini tetap berkontribusi besar bagi Indonesia, antara lain dalam mencairkan hubungan antara Indonesia dan Malaysia. Beliau meninggal pada tanggal 6 Februari 1993.

Tidak hanya perdana menteri, Natsir pun pernah menjabat sebagai seorang menteri. Hal yang unik kala itu, beliau Menteri sekaligus tokoh ternama di dunia Internasional, namun selalu mengenakan kemeja bertambal. Jika kejadian ini diungkapkan pada masa sekarang, mungkin tidak akan ada orang yang akan percaya. Namun, dulu sosok seperti itu nyata adanya. Dialah Mohammad Natsir, tokoh besar dengan kemeja bertambal.

Sebagai bukti, George McTurnan Kahin, guru besar Universitas Cornell, Amerika Serikat, sampai terhenyak kala bertemu Mohammad Natsir untuk pertama kalinya di tahun 1946. Kala itu, Natsir menjabat sebagai Menteri Penerangan RI. “Ia memakai kemeja bertambal, sesuatu yang belum pernah saya lihat di antara para pegawai pemerintah mana pun, terang Kahin sebagaimana yang tertulis dalam buku Natsir: 70 Tahun Kenang-kenangan Kehidupan dan Perjuangan.

Belakangan, Kahin mengetahui bahwa Natsir hanya memiliki dua stel kemeja kerja yang sudah tidak begitu bagus. Natsir tak malu menjahit kemejanya itu bila robek. Hal itu sampai membuat para pegawai Kementerian Penerangan kala itu mengumpulkan uang untuk membelikan Natsir baju agar terlihat seperti menteri sungguhan.



Referensi:

Komisi Pemberantasan Korupsi Kedeputian Bidang Pencegahan Direktorat Pendidikan dan Pelayanan Masyarakat. 2014. Orange Juice for Integrity: Belajar Integritas kepada Tokoh Bangsa. Jakarta: KPK
Read More

Tuesday, January 22, 2019

Hikmah Sejarah: Mi Godhok Sang Menteri Pendidikan Pertama di Malam Pelantikan

Ki Hadjar Dewantara beserta istrinya.

Pancarona Sejarah - R. Soewardi Soerjaningrat atau yang lebih dikenal dengan Ki Hadjar Dewantara, sebenarnya merupakan keluarga bangsawan. Beliau adalah putra dari GPH Soerjaningrat dan cucu Pakualam III. Walaupun terlahir dari keluarga bangsawan, beliau merupakan sosok yang egaliter. Beliau memutuskan menanggalkan gelar kebangsawanannya dengan mengganti nama, menjadi Ki Hadjar Dewantara pada umur 40 tahun.

Beliau merupakan menteri pendidikan pertama Indonesia. Pendidikannya dimulai dari Eerste Lagere School (ELS). Setelah itu, beliau lantas melanjutkan pendidikannya di School tot Opleiding van Inlandsche Artsen (STOVIA), sekolah dokter Bumiputera. Namun, beliau urung lulus dan menjadi dokter karena sakit. Lepas itu, Soewardi lantas berkiprah di dunia jurnalistik. Beberapa media yang pernah menjadi pelabuhan kariernya yakni Sediotomo, Midden Java, De Expres, Oetoesan Hindia, Kaoem Moeda, Tjahaja Timoer, dan Poesara.

Saat berkiprah di dunia jurnalistik ini, beliau juga berkiprah di dunia politik. Dengan penanya yang tajam dan kiprah politiknya ini, beliau berjuang memerdekakan Indonesia. Dalam kiprah politiknya ini, beliau sempat bergabung dengan Boedi Oetomo. Kemudian, beliau mendirikan Indische Partij pada 25 Desember 1912, bersama dengan Douwes Dekker dan dr. Cipto Mangoenkoesoemo.

Karena terlibat dalam pendirian Indische Partij ini, beliau sangat dimusuhi pemerintah kolonial Belanda. Bersama dua sahabatnya sesama pendiri Indische Partij, Ki Hadjar dijatuhi hukuman tanpa proses pengadilan. Mereka harus menjalani masa pembuangan. Atas hukuman itu, ketiganya mengajukan permohonan untuk dibuang ke Belanda, bukan tempat terpencil di negeri sendiri. Pada 1913, pemerintah kolonial menyetujui hal itu.

Selama lima tahun, Ki Hadjar menjalani masa pembuangan di Negeri Kincir Angin. Kesempatan itu digunakannya untuk mendalami masalah pendidikan dan pengajaran hingga akhirnya Ki Hadjar mendapatkan Europeesche Akte yang memungkinkannya mendirikan lembaga pendidikan. Itulah titik balik perjuangan Ki Hadjar.

Sepulang dari tanah air, beliau mendirikan Perguruan Taman Siswa pada tahun 1922. Perjuangan penanya pun bergeser dari masalah politik ke pendidikan. Tulisan-tulisan itulah yang lantas menjadi dasar-dasar pendidikan nasional bagi bangsa Indonesia. Saat Indonesia merdeka, ia pun dipercaya menjabat menteri pendidikan dan pengajaran.

Berkat perjuangan dan komitmennya terhadap pendidikan, Ki Hadjar mendapat gelar doktor honoris causa dari Universitas Gajah Mada pada 1957. Dua tahun berselang, tepatnya 28 April 1959, Ki Hadjar meninggal dunia dan dimakamkan di Yogyakarta.

Bagi seorang petinggi negeri, kenikmatan duniawi bukanlah hal yang sukar untuk dirasakan dan didapatkan. Pesta besar usai pelantikan sebagai pejabat adalah hal lumrah dengan dalih sebagai bentuk syukur kepada Tuhan atas kepercayaan yang diembankan. Namun, hal itu tak berlaku bagi Ki Hadjar Dewantara.

Setelah ditetapkan menjadi orang pertama yang menjabat Menteri Pendidikan, Pengajaran, dan Kebudayaan Republik Indonesia, Ki Hadjar pulang larut malam. Tak ada pesta atau makan besar istimewa yang menyambut kedatangannya. Bahkan sekadar lauk pauk pun tak tersedia di meja makan. Nyi Hadjar lantas menyuruh salah satu anak mereka untuk membeli mi godhok di pinggir jalan. Makan malam dengan menu serantang mi godhok untuk sekeluarga pun jadilah.

Bagi Ki Hadjar, itu bukan masalah besar. Meski berasal dari keluarga bangsawan, kesederhanaan memang telah menjadi bagian dari sikap hidupnya. Kesederhanaan inilah yang membuat Ki Hadjar tak silau memandang dunia walaupun jabatan prestisius disandangnya.

Seperti terpampang di Museum Sumpah Pemuda, Ki Hadjar pernah berujar: "Aku hanya orang biasa yang bekerja untuk bangsa Indonesia, dengan cara Indonesia. Namun, yang penting untuk kalian yakini, sesaat pun aku tak pernah mengkhianati tanah air dan bangsaku, lahir maupun batin aku tak pernah mengkorup kekayaan negara. Aku bersyukur kepada Tuhan yang telah menyelamatkan langkah perjuanganku."



Referensi:

Komisi Pemberantasan Korupsi Kedeputian Bidang Pencegahan Direktorat Pendidikan dan Pelayanan Masyarakat. 2014. Orange Juice for Integrity: Belajar Integritas kepada Tokoh Bangsa. Jakarta: KPK
Read More

Tuesday, January 15, 2019

Hikmah Sejarah: Belajar Kesederhanaan Ala Diplomat Ulung, Haji Agus Salim

Haji Agus Salim (kanan) tengah berbincang dengan Ir. Soekarno

Pancarona Sejarah - Haji Agus Salim adalah salah seorang pejuang kemerdekaan Indonesia. Beliau berjuang dengan jalan pengetahuan dan kemampuannya berdiplomasi.

Beliau memulai pendidikannya dari Europeesche Lagere School (ELS), kemudian berlanjut ke Hoogere Burgerschool (HBS) di Batavia. Di usia muda, Agus Salim mampu mengusai tujuh bahasa asing, antara lain Arab, Belanda, Inggris, Turki, Prancis, Jepang, dan Jerman. Keahlian berbahasa inilah yang mampu menunjang manuver diplomatik yang selama ini beliau perjuangkan.

Oleh sebab kemampuan diplomasinya inilah, Agus Salim sering dianggap sebagai diplomat ulung Indonesia. Dari kejeniusan dan ketekunannya, pada 1947 Indonesia mendapat pengakuan kedaulatan dan perjanjian persahabatan dengan Mesir. Pada awal Kemerdekaan, kepercayaan dari negara lain tentang kedaulatan Indonesia menjadi sangat penting guna syarat pendirian sebuah negara.

Saat Indonesia merdeka, beliau menjabat sebagai Menteri Luar Negeri. Hal ini tidaklah terlepas dari kemampuan penguasaan bahasa dan diplomasinya. Walaupun beliau adalah seorang Menteri, beliau memiliki hidup yang terbilang sederhana.

Kesederhaan Haji Agus Salim ini terlihat dari kehidupannya. Beliau sering berpindah-pindah rumah kontrakan (nomaden) untuk tempat tinggal. Guna menyegarkan suasana, beliau biasanya akan mengubah tata letak meja, almari, dan tempat tidur di rumahnya.

Saat seorang anaknya wafat, Agus Salim bahkan tidak punya uang untuk membeli kain kafan. Beliau lalu membungkus anaknya dengan taplak meja dan kelambu. "Orang yang masih hidup lebih berhak memakai kain baru, untuk orang yang mati, cukuplah kain itu," demikian pendapat Agus Salim.

Kesederhaan Agus Salim ini pun telah dibuktikan langsung oleh Mr Moch. Roem, murid H. Agus Salim sekaligus juga tokoh Masyumi. Pada suatu ketika di tahun 1925, Moch. Roem berkunjung ke rumah Haji Agus Salim. Ia bersilaturahmi ditemani Kasman dan Soeparno, dua pemuda pelajar Stovia. Mereka mengunjungi rumah Haji Agus Salim yang terselip di Gang Tanah Tinggi, Jakarta. Rumah sederhana untuk ukuran seorang cendekiawan, pejuang, dan diplomat bangsa.

Bagi Roem, kunjungan itu sangatlah berarti. Beliau bisa mendengarkan secara langsung mengenai gagasan dan pemikiran Haji Agus Salim, di tengah para pemuda yang sedang menyongsong pergerakan. Roem berkisah, dari asrama Stovia di Gang Kwini, ia bersepeda selama 10 menit menuju Tanah Tinggi, rumah Haji Agus Salim.

"Jalan yang diaspal pada saat itu hanya sampai Stasiun Senen, seterusnya jalan tanah biasa dan berlubang-lubang. Lewat jalan ini dengan sepeda, bagaikan naik perahu di atas air yang berombak," demikian kisah Roem, yang terekam di Jurnal Prisma, edisi 8/1977.

Ketika hujan, jalan sempit menuju rumah Agus Salim tergenang air dengan tanah yang belepotan. Jika menunggang sepeda, tanah lumpur akan melekat pada roda dan tidak bisa dikayuh. Sepeda harus dipanggul agar tetap bisa sampai tujuan. Itu yang dilakukan Kasman, kawan Moch. Roem, ketika berkunjung ke rumah Agus Salim. Itulah sedikit gambaran singkat tentang bagaimana kondisi rumah Haji Agus Salim yang sederhana.

Di hadapan Roem dan kawan-kawannya, Haji Agus Salim terlihat bersahaja. Tuan rumah yang menyambut para tamunya, para pelajar yang berkobar semangat itu, untuk duduk di serambi rumah. Mereka kemudian terlibat dalam perbincangan.

"Jalan pemimpin bukan jalan yang mudah. Memimpin adalah jalan yang menderita. Leiden is lijden," demikian kesaksian Haji Agus Salim.

Lihatlah bagaimana kehidupan Haji Agus Salim yang tidak pernah ada sumpah serapah meminta jabatan, tunjangan rumah dinas, tunjangan kendaraan, tunjangan kebersihan WC, tunjangan dinas luar negeri untuk pelesiran, dan lain-lain. Beliau adalah seorang pejuang yang lebih memilih jalan becek dan sunyi, berjalan kaki dengan tongkatnya dibandingkan gemerlapan karpet merah dan mobil Land Cruiser Alphard.

Anda tentu merindukan sosok sebagaimana Haji Agus Salim ini, yang senantiasa berada dalam ruang kesederhanaan guna mengisi kekosongan nurani rakyat. Beliau adalah teladan bagi sosok pemimpin bangsa.

Bagi Agus Salim, memimpin adalah menderita. Menjadi seorang pemimpin haruslah siap menderita untuk kesungguhan cita-cita dan kesejahteraan bangsa yang dipimpinnya. Haji Agus Salim membuktikan bahwa beliau mampu membawa kesederhanaan hidupnya ini hingga ajal tiba. Walaupun beliau sebenarnya mampu memperoleh uang dan gelimang harta, dengan pergaulan lintas pejabat, diplomat, dan peran kuncinya di berbagai peristiwa internasional. Namun, beliau menolak untuk serakah. Menurutnya, cukuplah kesederhanaan sebagai teman hidupnya.
Read More